PLN UIK TJB bekerja sama dengan masyarakat dan teman-teman akademisi yang tergabung dalam Marine Science Techno Park (MSTP) secara rutin melakukan pemeliharaan dan pemantauan perkembangan kegiatan konservasi di Pulau Panjang dalam hal ini Artificial fish
PLN UIK TJB bekerja sama dengan masyarakat dan teman-teman akademisi yang tergabung dalam Marine Science Techno Park (MSTP) secara rutin melakukan pemeliharaan dan pemantauan perkembangan kegiatan konservasi di Pulau Panjang dalam hal ini Artificial fish apartment (ALPHART) yang ditanam di kawasan perairan Pulau Panjang yang dikonservasi.
Kegiatan monitoring ALPHART dilakukan sekitar tiga hari dimulai dari pagi hingga sore hari. Kondisi cuaca cerah berawan saat pagi, saat siang pola gelombang mulai berubah, tapi saat sore mulai mendung ditambah sedimen yang naik disertai angin yang berhembus dari timur ke barat. Tim terdiri dari 3 orang yang bertugas untuk mencari lokasi penurunan balok apartemen ikan dan memberikan tanda pelampung. Penyelam kedua bertugas untuk mendata megabenthos sedangkan penyelam ketiga mendata ikan. Kedalaman kegiatan monitoring bekisar antara 5-6 Meter yang mana kisaran apartemen ikan mencapai 6 Meter. Jarak pandang bawah air antara 2-4 meter, jarak pandang 3-4 meter diperoleh saat pagi, tapi mendekati siang hingga sore jarak pandang sekitar 1-2 meter sedikit menyulitkan dalam kegiatan monitoring dikarenakan partikel tersuspensi dan partikel hijau menjadi penyebabnya. Estimasi luasan lokasi ALPHART tersaji dalam Tabel 1 berikut.
Pemantauan keanekaragaman ikan karang Pulau Panjang, Kabupaten Jepara dilakukan di dua stasiun, yaitu di ALPHART Bagan (stasiun 1), ALPHART Dermaga (stasiun 2). Hasilnya, jumlah individu yang teramati di stasiun 1 dan 2 secara berurutan adalah sebanyak 459 ekor dan 125 ekor. Dari jumlah individu tersebut, jenis ikan yang ditemukan pada stasiun 1 dan 2 berjumlah 12 spesies dengan komposisi yang berbeda. Data lapangan dari pemantauan yang telah dilakukan kemudian diolah menjadi himpunan data ekologis, seperti persentase kelimpahan, indeks keragaman, keseragaman, dan dominansi.
Data lapangan yang telah diolah menghasilkan indeks ekologis seperti keanekaragaman (H’), keseragaman (E), dan dominansi (D).

















